Kisah Nenek yang Ingin Bersama Nabi Muhammad di Surga

#Rindu Kami padamu ya Rasul#

(Meminjam judul lagu Bimbo yang selalu membuatku menangis)

Tweet: Sitaresmi S Soekanto

Kisah ini sudah lama saya dapatkan dan sering pula saya sampaikan kepada sahabat dan saudara. Namun tak ada salahnya saya ceritakan kembali. 

Kisah dari sebuah pelosok di pulau Madura yang dituturkan oleh seorang imam Masjid, setelah nenek yang menjadi tokoh cerita ini wafat. 

Sebab almarhumah nenek tersebut memang berpesan sangat, agar Ustadz tersebut tidak menceritakan kisahnya tersebut sebelum ia wafat. 

Nenek orang asli Madura ini berjualan bunga di sebuah lokasi pemakaman. Para peziarah kubur membeli bunga tersebut untuk ditaburkan di atas makam-makam yang mereka ziarahi. 

Di dekat pemakaman tersebut berdiri masjid yang cukup besar dan memiliki halaman luas dan dinaungi pohon-pohon yang rindang. Tiap saat, daun-daun berjatuhan memenuhi halaman masjid tersebut.

Setiap jam 10 pagi hingga menjelang zhuhur nenek tersebut meninggalkan meja dagangannya dan secara rutin menyapu halaman masjid dengan membawa karung untuk menampung sampah dedaunan tersebut. 

Maka ketika para jama'ah datang untuk shalat zhuhur, mereka akan selalu mendapati halaman masjid apik dan bersih. 

Suatu saat imam Masjid melihat bagaimana nenek tersebut berpeluh dan terbungkuk-bungkuk memunguti daun-daun yang berjatuhan dan memasukkannya ke karung. 

Maka pak Ustadz pun segera meminta agar marbot masjid di keesokan harinya, lebih dulu menyapu, agar sang nenek tidak harus menyapu halaman masjid yang lumayan luas tersebut. 

Ketika keesokan harinya nenek memasuki halaman masjid dengan membawa sapu dan karung, ia terhenyak melihat halaman masjid yang bersih dan tak ada satupun daun jatuh yang tersisa.

Beliaupun menangis sedih dan mendatangi imam masjid yang sengaja berdiri di emperan masjid untuk memastikan agar nenek tersebut tidak menyapu dan kelelahan lagi. 

" Kenapa menangis mbah, kami ingin meringankan beban si mbah yang selalu lelah menyapu setiap hari". 

Nenek atau si mbah tersebut pub menjawab namun meminta agar jawabannya diceritakan kelak ketika beliau sudah wafat. 

Dan kini nenek di pelosok Madura tersebut sudah wafat, maka kita bisa mendengar penuturannya dari pak Ustadz, imam Masjid. 

" Pak Ustadz,….saya ini orang miskin, bodoh tidak memiliki ilmu dan sudah tua pula….tapi saya punya keinginan besar….yang saya sebenarnya malu untuk mengatakannya. Apakah saya pantas untuk memiliki keinginan ini. Saya sangat mencintai Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan saya ingin bersama beliau di Surga kelak. Walaupun nampaknya berat, saya ingin tetap berusaha.  Maka setiap helai daun yang saya pungut, saya bacakan salam dan salawat bagi kanjeng Nabi. Sebanyak ratusan atau ribuan daun yang saya punguti, sebanyak itu pula shalawat yang saya ucapkan.Saya berharap daun-daun tersebut akan menjadi saksi bahwa saya mencintai kanjeng Nabi dan selalu bershalawat untuknya. Oleh karena itu biarkan saya terus menyapu halaman masjid ini hingga akhir hidup saya". 

Sejak saat itu hingga wafatnya nenek tersebut dikenang sebagai orang yang selalu menyapu halaman masjid dengan wajah bahagia. 

Begitu mudahnya bagi nenek tersebut untuk merasakan cinta dan bershalawat bagi Rasulullah Muhammad SAW. 

Namun nun jauh di sana di sebuah negara bagian di Amerika Serikat, di sebuah acara, seorang teman saya menangis dan berkata jujur…mengapa sulit baginya untuk merasakan cinta kepada Rasulullah: 

" Cinta kepada Allah lebih mudah saya rasakan karena Ia tetap yang memberikan rizki pada saya dan keluarga saya hingga hari ini. Cinta kepada suami dan anak-anak lebih kongkrit pula saya rasakan karena mereka bisa saya sentuh dan lihat. Sementara Rasulullah SAW walaupun ia berjasa, tetapi peristiwanya telah berlangsung berabad-abad yang lampau. Kini ia telah menjadi tokoh masa silam…. 

Kejujuran sahabat saya ini membuat saya menangis dan memohon hidayah baginya, bagi saya dan bagi kita semua untuk bisa sesederhana si mbah di pelosok Madura tersebut untuk merasakan dan mengekspresikan cintanya pada kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Semoga kita menjadi pengikut Rasulullah SAW yang setia dan mencintainya serta rajin bershalawat untuknya. 

Semoga kita bisa mengikuti si mbah dalam ketulusan cintanya kepada Rasulullah Muhammad SAW. 

Allahumma shalli  wa salim wa bariik 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'in……
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Kelas Konseling Orang tua (KKO) untuk Level Kelas 5 dengan Tema : “Persiapan Masa Aqil Baligh Anak pada Rentang Usia Kelas 5 SD"

Penerimaan Calon Perwira PSDP Penerbang TNI Tahun Ajaran 2021

Tak Perlu Ikut Cara Hidup Orang Lain

Ustadz Felix Siauw: Untukmu Wahai Saudaraku, HTI, PKS, dan Salafi

Anak dengan Sindrom Tamu

New Learning Norm: Menjadi Siswa Unggulan

Responmu Menentukan Kualitas Dirimu

Media Belajar Penuh Inspirasi

Panduan Pembelajaran di Era Kenormalan Baru